Umumnya mereka menduduki daerah-daerah pantai. Maka masih banyak dijumpai kesenian dan rumah-rumah adat Melayu dan Bugis. Setiap akhir pekan banyak warga Singapura dan Malaysia mengunjungi tempat-tempat ini sekedar menikmati suasana kampung asli dari kedua suku ini.
Bagi anda yang senang berpetualang misalnya hiking, menyelam, mengemudikan perahu layar misalnya, fasilitas untuk itu telah tersedia di hotel-hotel tempat anda menginap.
Atau anda gemar menikmati hiburan-hiburan malam seperti diskotik, karaoke atau night-club dan ingin ditemani oleh escort-girl yang cantik-cantik? Anda tinggal memilihnya asalkan kocek anda cukup tebal.
Kawasan Pulau Batam-Rempang-Galang yang populer dinamakan Barelang adalah kawasan perdagangan bebas. Oleh pemerintah ditetapkan sebagai kawasan bebas bea masuk bagi barang-barang dari luar negeri. Beberapa macam barang import relatip agak miring harganya dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Namun demikian jangan coba-coba anda membawa barang-barang tersebut keluar P. Batam dalam jumlah besar, kalau tidak ingin berurusan dengan petugas bea cukai di pelabuhan.
Bentuk Pulau Batam seperti terlihat pada gambar logo diatas itu.
Kondisi alamnya berbukit-bukit dan masih banyak hutan dibeberapa tempat. Namun akhir-akhir ini seiring bertambahnya penduduk, hutan-hutan tersebut sudah banyak yang berubah menjadi kawasan industri dan perumahan.
Karena letak geografisnya berdekatan dengan negara-negara tetangga Singapura dan Malaysia, sehingga -
Kilauan sinar matahari terpantul dari jernihnya permukaan air laut di Pantai Pulau Petong Batam. Pantai pasir putih yang landai itu ditumbuhi banyak tanaman laut seperti lamun dan jenis yang lainnya. Berbagai jenis ikan hias laut pun terlihat menghuni dasar perairan yang terumbu karangnya masih terbilang cukup baik itu.
Dari kejauhan terlihat beberapa pulau kecil yang tersebar di sekitar perairan pulau yang terletak sebelah selatan dari Pulau Batam itu. Memang dari hasil kunjungan tim Coral Reef Rehabilitation and Management Programme (Coremap) II dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) terlihat potensi sumber daya kelautan dan perikanan banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal di pulau itu.
Sebut saja potensi wisata bahari yang cukup menjanjikan. Dengan pemandangan pantai pasir putih yang indah juga lokasi wisata menyelam dan mancing yang tersebar luas di sekitar Pulau Petong, dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik bahkan manca negara. Menurut Rahmat (35) nelayan asal Pulau Petong, beberapa lokasi di perairan sekitar pulau pernah dibuat rumpon-rumpon sederhana.
Tujuannya supaya nelayan di sana tidak perlu melaut sampai jauh untuk menangkap ikan. Selain itu lokasi rumpon itu bisa dijadikan tempat wisata mancing di laut. Namun sayangnya, karena rumpon-rumpon itu hanya terbuat dari pelepah daun kepala yang dirangkai, maka tidak bertahan lama. “Bagusnya dibuat rumpon yang permanen dari beton,” ujar Rahmat.
Selain potensi wisata bahari, terdapat pula potensi ikan hias yang sama sekali belum tersentuh. Menurut Zulfan Hadi, tenaga pendamping Coremap II di Pulau Petong, pemanfaatan ikan hias laut sebagai komoditi dagang bisa menjadi mata pencaharian alternatif bagi masyarakat Pulau Petong.
Memang pada umumnya masyarakat Pulau Petong yang terdiri dari 93 Kepala Keluarga hampir 90%-nya merupakan nelayan tradisional. Mereka biasa menangkap ikan tidak jauh dari garis pantai. Tanpa disadari para nelayan itu sering melempar jangkar tepat di atas daerah terumbu karang. Biasanya hal itu dilakukan saat menggunakan alat tanpa pancing untuk menangkap sotong atau cumi-cumi.
“Nah dengan adanya mata pencaharian alternatif diharapkan upaya pengerusakan lingkungan bisa semakin ditekan,” ujar Zulfan. Lebih lanjut ia menjelaskan, pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan yang belum tergali itu, pada akhirnya diharapkan dapat untuk menyadarkan masyarakat agar bisa mandiri dalam mengelola wilayah terumbu karang yang ada di sekitar Pulau ini.
Pada kenyataannya upaya untuk menguak potensi kelautan dan perikanan di Pulau Petong masih dihadapi beberapa kendala. Fasilitas infrastruktur seperti dermaga pelabuhan yang memadai masih belum tersedia di sana. Terlebih belum ada transportasi laut yang tetap antara pulau Petong dan Pulau Batam. Butuh waktu kurang lebih 2 jam dari Pulau Galang (Bagian dari Pulau Batam) untuk sampai ke Pulau Petong menggunakan kapal motor nelayan.
Belum lagi masalah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang benar-benar melumpuhkan kegiatan melaut masyarakat nelayan di Pulau Petong. Betapa tidak, jangankan di Pulau Petong yang letaknya jauh dari pusat Kota Batam, di Pulau Galang saja yang dekat sulit mendapatkan BBM.
Rentetan permasalah itu seyogyanya mendapat perhatian khusus baik dari Pemerintah Daerah setempat maupun pemerintah pusat dalam hal ini DKP. Oleh karena itu melalui program Coremap II yang sudah dilaksanakan di Pulau Petong mulai tahun 2005 ini, diharapkan dapat membawa perubahan yang cukup fudamental dan berarti bagi masyarakat pesisir di pulau terpencil itu. Tentunya komitmen dan kerja sama antara inatansi terkait harus benar-benar terjalin dengan baik **